TRANSFORMASI KEBUDAYAAN DI KALIMANTAN TENGAH

Oleh:

 Prof. Drs. Kumpiady Widen, M.A.,Ph.D

I. Pendahuluan

Makalah ini akan membahas secara umum tentang Transformasi Kebudayaan di Kalimantan Tengah. Banyak factor pendorong terjadinya transformasi kebudayaan di Kalimantan Tengah. Berbagai faktor itu akan dikaji dalam lima periode perkembangan sejarah di Kalimantan Tengah, yaitu Pra Kolonialisme, Masa Kolonialisme, Rezim Orde Lama dan Rezim Orde Baru, dan  Masa reformasi. Untuk menghindari kesalahan pemahaman, terlebih dahulu akan di bahas terminologi dari transformasi itu sendiri dan konsep kebudayaan karena yang menjadi fokus pembahasan adalah Transformasi dan Kebudayaan.

II.Terminologi

Secara umum, transformasi adalah suatu perubahan dan perkembangan yang terjadi baik pada bentuk, rupa, sifat dan fungsi sesuatu yang bersifat material(fisik) maupun immaterial(abstrak/nonfisik). Dengan demikian, Transformasi Kebudayaan adalah perubahan dan perkembangan yang terjadi pada bentuk, rupa, sifat dan fungsi ke tujuh kebudayaan seperti yang dikemukakan oleh C. Kluckhohn, 1953 sebagai akibat dari berbagai pengaruh eksternal dan pengaruh internal.

Selanjutnya secara singkat kebudayaan berarti “keseluruhan sistem  gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kelangsungan hidupnya yang dijadikan sebagai milik dan pedoman hidup manusia yang diperoleh melalui proses belajar,”(Koentjaraningrat, 1990). Dengan penggunaan istilah yang berbeda, Selo Soemardjan(1986) mengatakan bahwa:”Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta manusia.”    Dalam kaitannya dengan pengertian kebudayaan ini, agar ia mudah dipahami, kebudayaan dipecah menjadi tujuh unsur universal yang merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di duani ini(C.Kluckhohn,1953). Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah:

(1)   Sistem Religi(sistem kepercayaan, kesusasteraan suci, sistem upacara keagamaan, komunitas keagamaan, ilmu gaib, sistem nilai dan pandangan hidup)

(2)   Sistem Sosial(Sistem kekerabatan, sistem kesatuan hidup setempat, paguyuban/perkumpulan, sistem kenegaraan dll)

(3)   Sistem pengetahuan(pengetahuan tentang alam sekitar, pengetahuan tentang flora dan fauna, pengetahuan tentang zat-zat dan bahan mentah, pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang kelakuan manusia, tentang ruang, waktu dan bilangan)

(4)   Sistem mata pencaharian(berburu dan meramu, perikanan, bercocok tanam di ladang, bercocok tanam menetap, peternakan, dan perdagangan)

(5)   Sistem Teknologi(alat-alat produktif, alat distribusi dan transport, wadah-wadah dan tempat untuk menaruh makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan,tempat berlindung dan perumahan serta senjata)

(6)   Bahasa(bahasa lisan dan tertulis)

(7)   Kesenian(seni patung, seni relief,seni lukis dan gambar, seni rias, seni vocal, seni instrumental, seni kesusasteraan dan seni drama)

Kemudian, bila dikaji dari wujudnya, maka kebudayaanmemiliki tigawujud, yaitu:

(1) Wujud Idiil. Kebudayaan berwujud ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-borma, peraturan dan sebagainya.Wujud kebudayaan idiil adalah adat istiadat, tata kelakuan atau adat dalam arti khusus.

(2)  Wujud Sosial. Kebudayaan berwujud suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan ini berupa sistem sosial yang terdiri dari interaksi antar manusia yang selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.

(3)  Wujdu Fisik. Kebudayaan berwujud benda-benda hasil karya manusia atau lazim disebut sebagai kebudayaan fisik atau artefak.

III. Tiga Proses Transformasi Kebudayaan

Secara ilmiah paling sedikitada tiga proses transformasi kebudayaan, yaitu:

(1)   Proses Konfrontatif. Proses seperti ini biasanya akan terjadi antara dua unsur kebudayaan atau lebih bertemu dan masing-masing unsur tersebut memiliki ciri atau sifat yang saling bertolak belakang. Prosesnya bisa terjadi  penolakan, penerimaan melalui proses konflik atau bahkan akan terjadi pertentangan secara terus menerus dan tidak menemukan titik temu. Salah satu contoh kasus ini pernah terjadi di Kalimantan Tengah pada masa kolonialisme dan penyebaran agama Kristen oleh Misi Agama Kristen Protestan dari Jerman. DalamUkur (1972) dinyatakan pada awal penyebaran agama Kristen di kalangan Dayak Kalimantan Tengah, Misionaris Jerman mengalami kendala karena adanya penolakan dari orang Dayak dan sebagai akibatnya ada beberapa orang misionaris Jerman dibunuh oleh orang Dayak. Contoh yang lain adalah adanya sekelompok pemuda atau LSM yang memiliki misi anti Globalisasi dan menyebarkan himbauan untuk tidak membeli produk luar negeri. Front Pembela Islam di Jakartayang secara anarkismenyerang dan merusak tempat-tempat hiburan/kafe di Jakarta karena dianggap sebagai sarang maksiat, minuman keras dan obat-obat terlarang  dan lain-lain.

(2)   Proses Konfirmatif. Proses ini umumnya akan terjadi bila kedua unsure kebudayaan atau lebih saling menyesuaikan diri atau terjadi proses asimilasi secara damai atau dalam istilah antropologis proses akulturasi dan inkulturasi. Dalam proses seperti ini ada proses toleransi yang sangat tinggi dan menghargai serta mempelajari dengan seksama secara tersembunyi. Bila menemukan kesamaan unsur/kesesuaian maka keduanya saling mempengaruhi secara baik dan damai. Contoh kasus ini dapat dilihat pada kasus Suku Baduy di Jawa Barat. Ada kelompok Baduy luar yang disebut Baduy Luar dan suku Baduy yang masih secara konsisten mempertahankan adat-istiadat leluhurnya di sebut Baduy Dalam. Atau bisa juga kasus orang Dayak yang menerima agama Kristen di Kalimantan Tengah. Karena pada awalnya misionaris Jerman gagal meng-Kristen-kan orang Dayak karena pendekatan yang digunakan kurang tepat. Akhirnya misionaris Jerman mundur selangkah untuk mempelajari kebudayaan Dayak. Dengan pendekatan kebudayaan seperti itu, baru mereka bisa diterima oleh orang Dayak dengan tangan terbuka dan tanpa konflik. Ternyata ada kesamaan unsur agama Kristen dengan unsur agama Kaharingan yang dimiliki orang Dayak. Dengan mengetahui kesamaan unsur agama tersebut, maka dengan gampang misionaris Jerman memasukkan ajaran agama Kristen di kalangan orang Dayak.

(3)   Proses Re-konstruktif. Dengan proses ini, dimaksudkan bahwa pengaruh dari luar maupun dari dalam akan mempengaruhi  proses yang lain yang lebih lanjut seperti perubahan total atau perubahan wujud atau perubahan nilai dari salah satu unsur kebudayaan. Misalnya karena akibat dari Konflik antar etnis di Sampit antara Dayak dan Mdura tahun 2001, orang Dayak yang semua halus dan suka mengalah, sekarang berubah menjadi orang yang agak kasar, pemberani dan tidak lagi suka mengalah. Sebaliknya orang Madura yang semuda kasar dan dianggap tidak memiliki sopan santu, akhir-akhir ini lebih sopan dan santu sama seperti orang Jawa pada umumnya.  Dalam bentuk fisik adalah bentuk rumah dari rumah panggung berubah menjadi rumah beton, dari alat transportasi dengan perahu kayuh berubah menjadi speedboat atau sepeda motor dan lain-lain. Rumah yang semula menggunakan atap sirap atau atau daun ilalang diganti dengan sirap kemudian berubah ke atap genteng dan kemudian berubah menjadi atap Multiroof. Warna rambut hitam, banyak yang dicet menjadi warna pirang dan lain-lain.

Tentunya yang dimaksud dengan transformasi atau perubahan ini terjadi pada ketiga wujud kebudayaandi atas,yaitu wujud idiil(sangat abstrak), gabungan antara wujud abstrak dan konkrit, dan wujud fisik kebudayaan. Yang dimaksud dengan wujud sangat abstrak yaitu yang berhubungan dengan nilai dan norma. Yang dimaksud setengah abstrakdan setengah fisik adalah sistem social. Misalnya orang bersalaman atau berciuman. Secara fisik langsung bersentuhan, namun secara abstrak atau implicit arati berciuman adalah kasih sayang atau bisa juga salam dalam budaya Barat. Demikian juga jabat tangan, bisa berarti hormat dan kehangatan atau juga kerinduan. Tergantung kebudayaan apa menginterpretasikannya.

IV. Faktor Penyebab Terjadinya Transformasi Kebudayaan di Kalimatan Tengah.

Transformasi kebudayaan sudah berlangsung sejak dulu di Kalimantan Tengah, yaitu sejak sebelum masa kolonial hingga masa sekarang ini. Beberapa factor penyebab terjadinya transformasi kebudayaan di Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut:

1.1.          Pra Kolonialisme. Pada masa ini yang mempengaruhi kebudayaan Kalimantan(Kalimantan Tengah saat ini) adalah perkembangan (a)Kerajaan Hindu, (b) masuknya pedagang Cina dan (c) masuknya agama Islam. Perkembangan kerajaan Hindu tampaknya telah mempengaruhi ritual kematian di kalangan Dayak Maanyan yaitu dengan sistem pembakaran tulang  orang yang sudah meninggal dunia. Kemudian pengaruh Cina, secara sistem nilai tampaknya belum ada.yang ada hanyalah kepemilikan beberapa barang-barang keramik berupa piring, mangkok, dan guci besar. Pengaruh agama Islam sangat pesat, khususnya bagi orang Dayak yang bermukim di sepanjangan bantaran sungai dan tepi pantai. Karena para penyebar agama Islam biasanya orang Melayu sambil berdagang di sepanjang sungai besar seperti sungai Barito, Kapuas, Kahayan dan sungai Kapuas mereka juga menikah dengan penduduk setempat.

  1. 2.          Masa Kolonialisme. Pada masa kolonialisme ada beberapa kasus yang sangat menonjol dan penting yaitu dominasi (a) Belanda dan Jepang, (b)perkembangan agama Kristen dan (c) Pertemuan Damai Tumbang Anoi. Semasa dominasi Belanda dan kemudian di sambung oleh dominasi Jepang, kondisi orang Dayak sangat miskin dan sengsara karena baik pihak Belanda maupun Jepang memeras orang Dayak, merampas harta benda berharga, bahkan menghancurkan harta benda yang dianggap tidak berharga. Kemudian ada perintah tanam paksa kepada orang Dayak, namun hasil dari tanam paksa itu dibeli sangat murah. Semasa dominasi Jepang, lelaki muda dilatih menjadi Haiho(tentara angkatan laut Jepang), dan wanita muda di desa rentan diperkosa. Perkembangan agama Kristen bersamaan dengan dominasi Belanda. Banyak orang Dayak masuk Kristen dan tidak jarang terjadi konflik internal keluarga karena masalah agama Kristen ini. Misionaris Jerman juga pernah menebus budak belian dari kalangan kaum “ningrat” Dayak, membebaskan mereka dari status budak belian namun sekaligus membaptiskan mereka masuk ke agama Kristen. Terakhir adalah Pertemuan Damai Tumbang Anoi tahun 1894. Tahun 1894 ini merupakan tonggak peradaban bagi orang Dayak, karena sebelumnya mereka dianggap belum beradab karena saling membunuh, mempraktekkan budak belian, belum memiliki adat-istiadat yang benar, serta perang antar kampung dan lain-lain. Beberapa keputusan penting Pertemuan Damai Tumbang Anoi yang berlangsung selama tiga bulan di desa Tumbang Anoi di bagian hulu sungai Kahayan adalah: Penghapusan budak belian, penghapusan pengayauan(headhunting), pelarangan perang antar kampong, dan mulai diberlakukan Hukum Adat. Sekarang desa Tumbang Anoi ini masuk kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah.
  2. 3.          Rezim Orde Lama(1945 -1966). Beberapa peristiwa penting dimasa Rezim Orde Lama adalah: (a)Perang revolusi mempertahankan kemerdekaan, (b)berkembangnya pendidikan formal, (c)Gerakan Mandau Telabang Pancasila (GMTPS) dan (d)persebaran Partai Komunis. Dalam perang revolusi mempertahankan kemerdakaan, banyak juga pemuda Dayak yang gagah berani terlibat dan ikut mempertahankan kemerdekaan RI. Demikian juga banyak orag Dayak yang sempat mengikuti pendidikan formal dan sebagian mereka merupakan agen perubahan bagi keluarga dan lingkungannya. Pada saat terjadi gerakan solidaritas di kalangan orang Dayak yang terkenal dengan nama Gerakan Mandau Telabang Pancasila(GMTPS), Provinsi Kalimantan Tengah masih belum berdiri dan masih menjadi satu dalam provinsi Kalimantan Selatan. GMTPS(1953-1956) ini adalah gerakan solidaritas menuntut kepada pemerintah pusat agar Provinsi Kalimantan Tengah segera diwujudkan dan tidak disatukan lagi dengan provinsi Kalimantan Selatan.Terakhir adalah persebaran Partai Komunis melalui berbagai kegiatan pertanian dan kesenian daerah. Penyebar ajaran komunis memberikan sumbangan cangkul dan alat-alat pertanian kepada para petani dan ikut menyusupkan diri dalam kesenian daerah yang diselenggarakan sekali dalam seminggu untuk merekrut orang desa sebagai anggota partai mereka. Setelah Partai Komunis ditumpaskan pada tahun 1965, banyak orang Dayak ditangkap dan dianggap terlibat karena nama mereka tercatat dalam daftar hadir yang ada ditangan para tokoh Partai Komunis. Akibatnya sejak saat itu perkembangan kesenian daerah berhenti ditampilkan karena orang takut terlibat Partai Komunis. Orang Dayakpun mulai mencurigai setiap orang asing yang masuk kewilayah mereka, takut orang tersebut penyebar Partai Komunis.

1.4.          Rezim Orde Baru(1966- 1998). Pada periode ini ada beberapa kasus/peristiwa sejarah yang mempengaruhi proses transformasi kebudayaan di Kalimantan Tengah. Diantaranya adalah (a)perkembangan pendidikan formal, (b)kesehatan modern, (c) Lembaga Hukum Adat(Kedamangan), (d) Kegiatan transmigrasi, (e) kegiatan HPH dan Illegal Logging yang berlangsung sejak tahun 1970-an, (f) Mega Proyek 1 juta hektar yang gagal, (g) perkebunan sekala besar khususnya kelapa sawit dan karet, (h) pertambangan trasional tanpa ijin dan pertambangan modern, dan (i) perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat melalui media cetak dan terutamanya melalui media elektronik.

1.5.          Masa Reformasi.  Pada periode ini peristiwa sejarah yang sangat penting adalah (a)Dimulainya Otonomi Daerah(UU No.32 Tahun 2004). Dengan dimulainya Otonomi Daerah berarti proses demokrasipun dimulai. Pada awalnya banyak kendala dalam implementasi Otonomi Daerah ini karena  justru menimbulkan efek lain seperti semakin meningkatnya Identitas etnik sehingga sedikit mengaburkan makna dari Nasionalisme itu sendiri. Akibatnya muncul egoisme daerah, terkotak-kotaknya SKPD, semakin lebar jurang antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten. Tuntutan putra daerah untuk menjadi pimpinan daerah, tuntutan untuk pemekaran wilayah provinsi, kabupaten dan kecamatan. Konflik antar etnik antara Dayak dan Madura tahun 2001 juga merupakan sebagai dampak dari implementasi Otonomi Daerah.

(b) Proyek Sawitnisasi. Selama 3 tahun terakhir kegiatan sawitnisasi semakin

gencar di Kalimantan Tengah, khususnya oleh pemerintah kabupaten sebagai

upaya mereka untuk meningkatkan PAD. Namun di lain pihak dampak dari

kegiatan Sawitnisasi ini banyak menimbulkan konflik vertikal antara masyarakat

dengan pemerintah dan pengusaha perkebunan.  Dampak lainnya yang sangat

parah adalah rusaknya  hutan dan segala ekosistemnya yang selama ini menjadi

pendukung eksistensi kebudayaan masyarakat setempat. Tanah masyarakat sebagai sumber penghidupan mereka sehari-hari dan pendukung kegiatan ritual adapt mereka banyak yang dijual kepada investor dan akibatnya mereka semakin miskin dan kehilangan identitas.

V. Faktor Pendorong Proses Transformasi Kebudayaan di Kalimantan Tengah

1. Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Agraria

Undang-Undang ini sangat bertentangan dengan pola kepemilikan dan penguasaan tanah yang dimiliki oleh masyarakat yang  mereka wariskan secara adat dan turun temurun. Selanjutnya dengan berlakunya PP Nomor 36 tahun 2005 tentang: Pengadaan Tanah Bagi pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,” akan berbenturan dengan konsep kepemilikan tanah secara adapt seperti konsep : Petak Ayungku, dan tanah adapt(Ulayat?). Konflik juga akan terjadi dengan perusahaan tambang, HPH,Perkebunan, transmigrasi,dan para tengkulak tanah.

2. Undang-Undang No. 11 Tahun 1968 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan

Kegiatan pertambangan selalu bersentuhan dengan tanah, hutan dan Sumber Dayak Alamnya. Dengan adanya Undang-Undang ini masyarakat yang dianggap sebagai pemilik tanah, hutan dan SDA yang ada di sekitar mereka hanya menjadi penonton dan malah menjadi semakin menderita dan miskin. Belum lagi ganti rugi lahan, rekrutmen tenaga kerja, dan program pengembangan masyarakat(community Development) yang dilakukan secara tidak adil dan dengan sesuka hati. Dampak lainnya adalah maraknya kegiatan Penambang Tanpa Ijin(PETI) baik di sungai maupun di darat.

3. Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan

Undang-Undang ini jugasangat bertentangan dengan kebudayaan masyarakat setempat.. Hutan, bagi masyarakat local, memiliki berbagai fungsi yaitu ekonomis, social, budaya, dan ritual. Oleh karenanya hutan sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat semakin terbatas, demikian juga kekayaan SDA-nya seperti keragaman flora dan fauna akibat kegiatanHPH yang berlangsung sejak tahun 1970-an. Kesuburan lahan semakin menurun, kawasan hutan untuk pertanian semakin menyempit, tanah-tanah adapt diseorobot tanpa ganti rugi, rekrutmen tenaga kerja tidak adil, pembinaan masyarakat kurang serius. Pengusaha dan tenaga kerja dari luar membawa budaya baru seperti judi, miras, narkoba, PSK, kawin kontrak, budaya instant,dan lain-lain yang sangat merugikan masyarakat local.

4. Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa.

Undang-Undang Otonomi Daerah ini juga sangat bertentangan dengan tatanan kebudayaan masyarakat  local. Dengan adanya Undang-Undang ini seluruh desa /kampung di Indonesia diseragamkan dengan tata cara desa yang ada di Pulau Jawa.  Padahal masing-masing daerah memiliki istilah dan ukuran desa tersendiri. Demikain pula dengan nama kepala desa dan cara pemilihannya pun jauh berbeda. Sebagai contoh, beberapa buah Betang(rumah Panjang/Long House) di pinggir sungai tidak dianggap desa oleh pemerintah, sehingga penghuni rumah panjang ini ini diharuskan memiliki rumah sendiri secara individual.  Beberapa desa adat yang tidak memenuhi syarat sesuai undang-undang ini harus digabung. Semua kebijakan ini dianggap merusak tatatan desa/kampong yang ada dan secara langsung merusak tatanan lingkungan hidup dan secara otomatis pula berdampak negatif pada tatanan budaya masyarakatnya.

5. Keppres No.82 Tahun 1995(Mega Proyek 1 juta Ha lahan Gambut di Kalteng)

Pembukaan dan kegagalan Mega Proyek  Lahan Gambut 1 juta hektar di Kalimantan Tengah sebagai tindak lanjut Keppres tersebut telah membawa dampak negatif yang sangat besar di bidang social, budaya, ekonomi, ekologi, dan politis bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Beberapa contoh yang dapat diamati adalah kemiskinan, pengangguran, serta konflik social yang berhubungan dengan kepemilikan tanah dan kompensasi lahan yang tidak pernah kunjung selesai.  Punahnya kekayaan flora, fauna, ikan, pohon langka, tanaman obat, tanah/hutan adat(pahewan/tajahan), banjir, mendangkalnya dasar air sungai, dan lain-lain.

6. Peraturan Daerah No. 14 Tahun 1998 tentang Kedamangan

Peraturan daerah ini sebetulnya secara politis bisa menghancurkan kebudayaan masyarakat local, karena peran Damang Kepala Adat sebagai pelestari nilai-nilai kebudayaan dan penegak adapt dan hukum adat dibatasi atau diintervensi oleh pemerintah. Akibatnya Damang Kepala Adat tidak lagi memiliki kemandirian dalam menjalankan tugasnya. Seharusnya Damang memiliki institusi yang independen dan netral. Kondisi di lapangan juga kurang mendukung, karena ada beberapa camat dan Kepala Kepolisian Sektor(Kapolsek) tingkat kecamatan belum memahami adat-istiadat setempat dan belum memahami pentingnya peranan Damang dalam menyelesaikan berbagai kasus yang berhubungan dengan adat-istiadat setempat. Seharusnya ketiga tokoh ini (Camat, Kapolsek dan Damang) bersinergis dalam menegakkan adat dan hukum di wilayah kecamatan.

7.  Peraturan Daerah Nomor: 5 Tahun 2003 tentang Pengendalian Kebakaran  

     Hutan dan Atau Lahan. 

Realisasi Perda ini oleh pemerintah daerah telah menimbulkan konflik vertical antara masyarakat sebagai petani peladang berpindah dengan gubernur dan bupati di Kalimantan Tengah. Petani peladang berpindah dilarang membakar lahan mereka dengan alasan merusak ekosistem hutan dan asapnya mengganggu kesehatan. Sementara perladangan berpindah dengan system bakar merupakan kebudayaan yang telah diwariskan dan dilakukan sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Akibatnya para petani terancam kelaparan sementara pemerintah belum mendapatkan solusi yang tepat untuk masalah ini.

VI. Dampak transformasi Kebudayaan di Kalimantan Tengah

  1. Dampak Positif: Perubahan Nilai dari yang urang baik menjadi lebih baik yang berasal dari pengaruh pendidikan formal, lingkungan, kesehatan modern, teknologi informasi dan komunikasi, dan pendidikan politik. Di samping itu penanaman nilai-nilai universal berupa Hak Azasi Manusia(HAM), Faham Demokrasi, Nilai Toleransi dan Kesetaraan Jender), serta sifat terbuka (inklusifisme), tidak lagi ekslusif(tertutup). Dampak positif ini dapat dilihat dari orang-orang yang sudah berpendidikan yang juga secara otomatis menjadi agen perubahan bagi keluarga dan lingkungannya.

2.Dampak Negatif

Dampak negatif sebagai akibat dari terjadinya transformasi kebudayaan di Kalimantan Tengah diantaranya sebagai dampak negatif penting adalah rusaknya       tatanan kebudayaan, rusaknya ekosistem lingkungan, dan kemiskinan. Yang dimaksud dengan rusaknya tatanan kebudayaan, yaitu nilai-nilai kebudayaan asli daerah sudah banyak yang hilang atau diabaikan oleh masyarakat dan diganti dengan nilai-nilai kebudayaan luar/global. Semakin intensifnya interaksi social di kalangan masyarakat dan juga teknologi informasi melalui media cetak dan media elektronik serta teknologi komunikasi juga mempercepat proses transformasi kebudayaan di kalangan masyarakat Kalimantan Tengah dan menimbulkan dampak negative yang berkaitan dengan nilai. Misalnya konsumtif, kejahatan, dan persaingan. Nilai-nilai yang berhubungan dengan etika(adat-istiadat), bahasa daerah, alat-alat teknologi khas daerah seperti tikar, bakul, alat tangkap ikan dan berbagai kearifan local banyak yang tidak kelihatan lagi dan diganti dengan unsur kebudayaan luar/global yang terbuat dari bahan plastik, seng dan keramik.  Rusaknya ekosistem lingkungan akibat kebakaran hutan, HPH, Pertambangan, Perkebunan skala besar, transmigrasi, dan juga perladangan berpindah sehingga mempersempit wilayah pertanian bagi petani dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Kemiskinan adalah dampak nyata yang muncul akibat rusaknya tatanan kebudayaan dan dan rusaknya ekosistem lingkungan tadi.

VII. Syarat-Syarat Terjadinya Transformasi Kebudayaan

Secara objektif, transformasi kebudayaan(sosial) dalam masyarakat sangat penting dan diperlukan saat ini untuk mewujudkan cita-cita membangun negara industri. Pengalaman menunjukkan bahwa modernisasi dan industrialisasi hanya dapat terjadi bila ditunjang oleh transformasi sosial dan kebudayaan. Masalah pokok dalam perubahan perekonomian adalah perubahan manusia dan semua pranata yang dibentuk manusia. Misalnya apakah perubahan itu dari yang agraris ke semi industri, dari semi industri ke perekonomian industri modern. Proses transformasi kebudayaan hendaknya seiring dengan peningkatan kualitas SDM anggota masyarakatnya(pendidikan, kesehatan, kesejehteraan dan pengatehuan politik). Syarat yang terakhir adalah meningkatkan Etos Kerja. Etos kerja erat kaitannya dengan kebudayaan suatu masyarakat. Salah satunya adalah agama. Semua agama/kepercayaan mengajarkan tentang pentingnya kerja keras, hidup sederhana dan perbuatan baik. Sebagai contoh didunia barat yang mempraktekkan The Need For Achievement dari TheProtestant Ethic and the Spirit of Capitalism David McCliland. Prinsip dari aliran ini adalah mempraktekkan anjuran Tuhan agar semua manusia rajin bekerja keras untuk kehidupannya dan mau berbuat baik agar bisa menuju kerajaan surga. Kemudian ajaran Konfucianisme di Cina, Korea dan Jepang yang sudah menjadi Negara insdustri mapan dan terkemuka didunia. Diharapkan kita bisa menengok ke arifan local dan jaran agama kita masing-masing sebagai upaya untuk meningkatkan etos kerja, hidup sederhana dan berlomba-lomba untuk berbuat baik pada sesama manusia, lingkungan, dan juga pada Tuhan.

VIII. Penutup

Proses transformasi kebudayaan(sosial) di Kalimantan Tengah berjalan sangat pesat, namun demikian masih belum siap menghadapi proses industrialisasi ekonomi. Salah satu contoh adalah ekonomi subsisten yang masih kuat diwarisi oleh komunitas Dayak yang tinggal di daerah pedalaman seperti sistem perladangan berpindah. Menurut penulis, salah satu sumber kemiskinan mereka adalah ladang berpindah itu. Yang seharusnya terjadi(transformasi yang seharusnya terjadi) adalah komunitas Dayak meninggalkan perladangan berpindah dan beralih pada sistem pertanian menetap atau menggalakkan perkebunan karet yang memang mereka wariskan secara turun temurun. Untuk saat ini perladangan berpindah sudah tidak cocok lagi, justru merugikan karena merusak lingkungan, tanah tidak subur dan lahan semakin terbatas. Kendalanya saat ini pemerintah tidak bergerak cepat untuk mempersiapkan masyarakat dengan sistem perekonomian menetap. Kendatipun sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membuka isolasi dengan membangun sarana dan prasarana transportasi hingga ke pedelaman di mana masyarakat Dayak bermukin, namun akibatnya, mereka justru semakin termarjinal, dan miskin bukan diberdayakan dengan dibukanya isolasi ini. Justru para pendatang yang diuntungkan dan bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan bisnis mereka hingga ke  daerah pedalaman.  Menurut penulis, kunci penting untuk meningkatkan kesejahteraan bagi komunitas Dayak adalah mereka harus berubah dari kebiasaan tradisional ke perekonomian semi industri atau industri modern tanpa meninggalkan nilai-nilai kebudayaan mereka sendiri.

Daftar Bacaan

Riwut, Tjilik. 2003. Maneser Panatau Tato Hiang. Palangka Raya: PUSAKALima

Riwut, Tjilik. 2007. Kalimantan Membangun, Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta: NR Publishing

Ukur, F. 1972. Tantang Jawab Suku Dayak. Disertasi doktor tidak dipublikasikan.

Widen, Kumpiady. 2006. Peranan Kebudayaan Dalam Pembangunan: Perspektif

Antropologis. Universitas Palangka Raya: Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Antropologi. Tidak diterbitkan.

Widen, Kumpiady. 2001. The Impacts of Globalisation on Dayak Identity.Unpublished

Dessertation at La TrobeUniversity, Melbourne-Australia

Widen, Kumpiady.2005. Impacts of Peatland and Forest Fires on Local

Communities: Ecological, Health, Economics, and Cultural Persepectives. Dalam Tropical Petalands, International Journal For Management of Tropical Peatlands. Volume 5, Number 5, July 2005.

Widen, Kumpiady. 2003. Reinterpretasi Mentalitas Kita Dalam Pembangunan.

Makalah disajikan pada seminar tentang Kesejarahan dan Kebudayaan Kalimantan Tengah. Diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah, tanggal 18 Sept. 2003.

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 4 = 1

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*