MANAJEMEN KONFLIK: MELALUI PEMAHAMAN NILAI-NILAI BUDAYA DAYAK

 Oleh:

Prof.Dr. Kumpiady Widen, M.A., Ph.D*

Pendahuluan

Bagaimana Memahami Orang Dayak?  Caranya adalah dengan memahami nilai-nilai budaya Dayak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di bawah ini akan diuraikan beberapa informasi tentang siapakah orang Dayak itu, Konsep Kepercayaan mereka, Konsep Pilosofis Rumah Betang, Konsep Adat-Istiadat dan Hukum Adat. Pemahaman tentang nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak sangat bermanfaat bagi suku bangsa lainnya yang non Dayak sebagai modal untuk mempercepat proses integrasi sosial antara suku bangsa yang berbeda-beda latar belakang sosial dan budayanya.

IISiapakah Orang Dayak?

Dayak adalah  sebuah label kolektif etnisitas bagi kelompok suku bangsa(penduduk pribumi) pulau Kalimantan.  Tjilik Riwut(1993) membagi suku bangsa Dayak yang mendiami pulau Kalimantan ini ke dalam paling sedikit 405 sub kelompok etnis.  Khusus untuk Kalimantan Tengah Riwut(1993) dan Melalatoa(1995) memperkirakan bahwa terdapat paling sedikit ada 10 sub kelompok etnis Dayak seperti: Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Lawangan, Bentian, Bawo, Punan, Siang,Tamuan, dan Klemantan.

Berdasarkan perhitungan kasar dari The Common Ground Indonesia jumlah populasi suku bangsa Dayak yang ada di Kalimantan Tengah berjumlah sekitar 742.729 orang. Data kuantitatif tersebut  baru merupakan data awal  sebagai landasan untuk memahami suku bangsa Dayak. Namun secara ilmiah dan objektif data tersebut masih perlu dikembangkan dan diperkaya lagi melalui penelitian lebih lanjut.

Pada jaman kolonial dan masa sebelum kemerdekaan, Dayak memiliki konotasi yang sangat negatif. Bagi orang asing, Dayak sering diistilahkan sebagai The wild man of Borneo; The People of the Weeping Forest dan The Headhunters of Borneo. Sedangkan bagi orang Indonesia, Dayak sering disebut sebagai manusia berekor, kanibal(makan orang), pemburu kepala, kafir, kotor dan tidak beradab. Dalam pemahamam pembangunan dan modernisasi Dayak lebih dikenal sebagai peladang berpindah-pindah, suku terasing, perambah hutan, orang yang tidak berbudaya, pengembara, terkebelakang,  dan lain-lain. Setelah hilang istilah Suku Terasing, Dayak sekarang memiliki label baru bagi Departemen Sosial Republik Indonesia, yaitu Komunitas Adat Terpencil(KAT). Kendati hanya merubah nama, namun esensi dan program pembinaan/pemberdayaannya masih sama dengan proyek-proyek pembinaan/pemberdayaan Suku Terasing sebelumnya.

___________________________________________

*   Dosen  Sosiologi dan Antropologi di Universitas Palangka Raya.  Ph.D dalam ilmu

antropologi dari La Trobe  University,  Melbourne-Australia.

Berbagai cap dan isu negatif tentang Dayak tersebut sebenarnya cenderung memiliki makna politis, yaitu sebagai upaya pemerintah kolonial dan pemerintah Republik Indonesia menyudutkan suku bangsa Dayak agar mereka tetap miskin, termarginal, dan tidak memiliki akses dalam segala aspek pembangunan.

IIIAsal Usul Orang Dayak

Secara ilmiah dan berdasarkan sejarah perkembangan manusia dan berdasarkan hasil penelitian para peneliti terdahulu seperti A.B.Hudson(1967); F.Ukur(1971), M. Coomans(1987); Riwut(1993); Ukip et al(1996) dan lain-lain mengatakan bahwa asal usul suku bangsa Dayak adalah dari daerah Yunan(Cina Selatan).  Berdasarkan perspektif sejarah perkembangan manusia itu, maka Ukur(1974); Coomans(1987); dan Carey(1976) mengelompokkan manusia yang menghuni pulau Kalimantan ke dalam dua kelompok besar berdasarkan periode kedatangan mereka, yaitu Melayu Tua(Proto Melays) dan Melayu Muda(Deutro Melays). Ukur memberikan contoh bahwa orang Dayak sebagai kelompok manusia pertama penghuni pulau Kalimantan disebut sebagai kelompok Melayu Tua, sedangkan orang Melayu yang datang kemudian disebut sebagai Melayu Muda.

Namun di samping data hasil penelitian di atas, orang Dayak sendiri masih banyak melihat asal-usul nenek moyang mereka berdasarkan cerita tradisi lisan(Tanuhuyen, Tetek Tatum, atau Mitologi) yang dimiliki oleh masing-masing sub kelompok etnis Dayak. Di kalangan Dayak Ngaju, misalnya, meyakini tentang cerita Palangka Bulaw dan Batang Garing sebagai asal mula penciptaan suku Dayak. Di kalangan Dayak Maanyan diyakini cerita Imula Alah sebagai cerita asal-usul penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia.

IVPersebaran Suku Bangsa Dayak

Dayak adalah penduduk pribumi pulau Kalimantan. Mereka tersebar di seluruh bagian Kalimantan seperti: Kalimantan Utara(Serawak dan Kota Kinabalu- Malaysia), Brunei Darussalam; Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Proses persebaran suku bangsa Dayak adalah melalui kegiatan perkawinan dengan sub kelompok etnis lainnya, perang antar suku, pengayauan, kegiatan perladangan berpindah-pindah, dan terdesak oleh suku Melayu. Suku bangsa Dayak yang terkenal di daerah Serawak, Kota Kinabalu dan Brunei Darussalam adalah Dayak Iban, Dayak Apu Kayan, Klemantan, , Murut,  dan lain-lain. Di Kalimantan Selatan terdapat Dayak Pitap, Dayak Meratus(Bukit), Tapin, Labuan, dan Alai. Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat yaitu Dayak Iban, Dayak Kenyah, Kenayatn,  Bajau,  Lepo, Penihing, Bentian, Punan, dan lain-lain. Kalimantan Tengah seperti disebut di atas tadi. Namun perlu dijelaskan tentang persebaran Suku Dayak di Kalimantan Tengah berdasarkan DAS. Misalnya di sepanjang DAS Barito terdapat Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Lawangan, Dusun, Taboyan, Siang, Punan. Di DAS Kapuas adalah Dayak Ngaju dan Ot Danum. Di DAS Kahayan terdapat Dayak Ngaju, Ot Danum, Punan, Klemantan, dan Dayak Iban. Di DAS Lamandau terdapat suku Dayak Tamuan(Tomon).

VKesamaan Unsur Budaya

Kendatipun suku bangsa Dayak terbagi-bagi ke dalam paling sedikit 405 sub kelompok etnis dan tersebar di seluruh pulau Kalimantan(Kaltim, Kalbar, Kalsel, Kalteng, Brunei Darussalam, Kuching dan Kota Kinabalu-Malaysia), namun mereka memiliki kesamaan-kesamaan unsur budaya seperti bentuk fisik, arsitektur rumah/Betang, pola permukiman, ciri-ciri linguistik, tradisi lisan, adat-istiadat, struktur sosial, sistem ekonomi, bentuk senjata, pandangan tentang jagad raya, perambah hutan, tradisi lisan, pendidikan tradisional, peran jender, upacara kematian, magis-religius, sistem gotong royong, dan lain-lain.

VIKarakteristik Umum

Dengan wilayah seluas 153.564 km² Propinsi Kalimantan Tengah memiliki 13 buah kabupaten dan 1 kota. Dari ke-13 kabupaten tersebut, 3 kabupaten berada di wilayah pesisir laut Jawa, sedangkan 10 kabupaten lainnya dan 1 kota berada di daerah dataran rendah, namun sedikit berbukit serta dilalui oleh aliran sungai-sungai besar seperti sungai Barito, Kapuas, kahayan dan lain-lain. Hutan dengan luas 134.937,25 atau mencapai 87, 87% dari luas wilayah sangat dikenal dengan hasil hutannya terutama kayu.  Hutan inilah yang menjadi sumber kehidupan satu-satunya bagi warga masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman. Kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pesisir relatif mudah dijangkau bila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman atau hulu-hulu sungai. Di daerah pesisir umumnya didominasi oleh etnis Melayu(Banjar, Bugis dan Madura) yang berprofesi sebagai nelayan, sedangkan di daerah pedalaman dan hulu-hulu sungai di dominasi oleh etnis Dayak yang berpofesi sebagai petani peladang berpindah.  Untuk memudahkan pemahaman tentang beberapa karakteristik umum suku bangsa Dayak, di bawah ini akan dibahas secara ringkas:

1. Konsep Religi

Konsep kepercayaan suku Dayak Kalimantan Tengah  dikenal dengan Kaharingan, yaitu suatu kepercayaan yang menekankan sebuah konsep yang sangat abstrak tentang kepercayaan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan terhadap roh-roh nenek moyang. Dengan konsep kepercayaan demikian, maka inti dari kebahagiaan dan ketentraman hidup ini bagi orang Dayak bukan terletak pada aspek kebendaan (material), tetapi terletak pada keseimbangan kosmos. Kesetiaan umat manusia untuk menjaga keseimbangan kosmos merupakan sumber dari kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan hidup. Itulah sebabnya mengapa orang Dayak harus tunduk dan taat pada kekuasaan dan kekuatan alam semesta ini dan tidak memiliki sifat agresif dan eksploitatif. Sifat mengalah dari orang Dayak sangat menonjol sebagai perwujudan dari upaya mereka untuk menjaga keseimbangan kosmos ini.

2. Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan yang dianut oleh suku Dayak adalah bilateral, yaitu menarik garis kuturunan melalui pihak ibu dan pihak bapak.  Sedangkan bentuk keluarga menganut dua jenis, yaitu: keluarga inti(nuclear family) dan keluarga kerabat(extended family). Baik dalam keluarga inti maupun dalam keluarga kerabat selalu ada perwakilan keluarga yang disebut dengan wali asbah. Semua anggota keluarga harus tunduk pada wali asbah ini dalam menangani semua perkara kehidupan menyangkut masalah perkawinan, kematian, dan perselisihan, baik yang menyangkut kasus internal keluarga maupun eksternal. Solidaritas sosial dan kelompok sangat menonjol pada peristiwa kematian dan perkawinan. Setiap ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal dunia, warga Dayak akan datang secara otomatis, dan memberikan bantuan secara suka rela baik berupa uang, beras, gula, kopi, the, atau datang sekedar menyumbangkan tenaganya untuk membantu berbagai pekerjaan yang ada di rumah duka. Bantuan seperti ini disebut paninrai. Pada ritual perkawinan, acara adat biasanya dilakukan sehari sebelum acara resmi dilaksanakan. Acara adat biasanya hanya dihadiri oleh warga Dayak sendiri dan mereka menyalurkan bantuan suka rela berupa uang secara kolektif kepada kedua mempelai. Bantuan seperti ini disebut Turus Tajak.

3. Pola Permukiman

Permukiman suku Dayak biasanya berada di pinggir sungai dan berbentuk memanjang mengikuti alur sungai. Rumah yang berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu bulat biasanya menghadap ke sungai dan menghadap ke arah timur.  Sungai dan arah mata hari terbit memiliki makna yang sangat hakiki dalam kepercayaan suku Dayak. Keduanya bermakna sumber kehidupan yang bisa memberikan kekuatan, nafas, dan kehidupan bagi manusia. Sungai memiliki multi-fungsi bagi orang Dayak karena dipercaya sebagai satu-satunya jalan yang ditempuh oleh roh-roh orang yang sudah mati menuju ke surga baka. Secara umum sungai berfungsi sebagai prasarana transportasi, sumber air minum dan sarana MCK.

4. Sistem Mata Pencaharian

Sumber penghidupan yang paling utama bagi orang Dayak adalah ekonomi subsisten dalam bentuk perladangan berpindah-pindah, menyadap karet, mencari rotan, mencari kayu bakar, berburu, menangkap ikan, serta meramu berbagai hasil hutan yang ada di sekitar mereka.  Dengan sistem mata pencaharian demikian, maka hutan(termasuk tanah dan segala isinya) memiliki nilai yang sangat penting bagi kehidupan orang Dayak. Ada beberapa nilai dan norma yang harus ditaati oleh orang Dayak pada saat mereka berhubungan dengan hutan, yaitu melakukan seleksi secara ketat terhadap pohon apa saja yang boleh dan tidak boleh ditebang,  binatang apa yang boleh ditangkap, bagian sungai mana yang tidak boleh dicemari, dan bagian hutan mana yang tidak boleh diganggu.  Semua aturan seperti ini sudah diketahui secara lisan melalui sosialisasi secara turun temurun. Dengan masuknya perusahaan kayu(HPH), hutan yang banyak menyimpan berbagai kekayaan flora, fauna, dan hasil tambang semakin berkurang dan mengakibatkan kemiskinan dan kesengsaraan bagi orang Dayak yang mengandalkan hutan bagi kelangsungan hidup mereka.

5. Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan tradisional masih melekat dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Dengan mengandalkan sistem pengetahuan tradisional itu orang Dayak belum memiliki orientasi masa depan. Yang mereka andalkan adalah orientasi masa lalu dan masa kini, dalam hal ini diwujudkan dalam kebiasaan mereka mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam, seperti bertani dengan sistem perladangan berpindah, berburu, dan menyembuhkan penyakit dengan mengandalkan dukun serta obat-obatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan tertentu. Dengan mengandalkan  sistem pengetahuan secara tradisional dan secara lisan, maka berbagai bentuk simbol dan benda-benda, patung, bunyi, dan tanda-tanda alam memiliki makna yang dikaitkan dengan seluruh aktivitas kehidupan mereka sehari-hari.

Tradisi lisan juga masih melekat pada kebiasaan hidup orang Dayak. Segala macam pengetahuan harus dihafal di luar kepala dan tidak terbiasa untuk ditulis. Misalnya seorang belian/dukun yang menurunkan ilmunya kepada orang lain tidak boleh secara tertulis, harus secara lisan. Tradisi lisan seperti ini sesungguhnya memerlukan orang-orang yang brilian yang memiliki daya ingat yang kuat, jujur, setia, dan tidak angkuh/sombong atas kepiawaiannya.

6. Adat Istiadat dan Hukum Adat

Adat istiadat merupakan pedoman hidup atau sejumlah norma dan nilai yang mengatur tata kehidupan orang Dayak sehingga mereka disebut dengan Belom Bahadat atau hidup beradat.  Adat bagi orang Dayak dibagi menjadi dua bagian, yaitu adat yang mengatur tentang kehidupan(Siklus kehidupan) dan adat yang mengatur tentang ritual kematian. Di dalam adat sudah ditentukan hal-hal yang dianjurkan dan hal-hal yang dilarang/ditabukan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bila berbicara tentang adat  sudah tentu di dalamnya sudah termasuk Hukum Adat yang berfungsi untuk memeberikan sangsi bagi pelanggaran terhadap adat-istiadat yang sudah diakui bersama.  Adat-istiadat harus ditaati dan diwujudkan dalam prilaku dan aktivitas sehari-hari dan dalam jalinan hubungan dengan berbagai unsur kosmos. Orang yang tidak mematuhi adat dicap sebagai Belom Dia Bahadat atau hidup tidak beradat. Oleh karenanya orang semacam itu harus dijauhi dan diusir dan keluar dari lingkungan hukum adat di mana ia berada. Tjilik Riwut(2003) menyatakan paling sedikit ada tiga landasan dasar pelaksanaan hukum adat Dayak, yaitu:

  1. Menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan roh-roh nenek moyang dan dengan penciptaNya,
  2. Menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban internal warganya,
  3. Menjaga stabilitas keamanan, relasi dan ketertiban warga dengan warga lain di luar sukunya.

7. Konsep Petak Ayungku

Tanah dan segala isinya merupakan segala-galanya bagi orang Dayak. Seperti dikatakan oleh Djuweng(1995) bahwa tanah merupakan basis kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Tanah menyimpan sejarah tidak tertulis, sebuah peringatan memberlangsungkan kehidupan hari ini, dan suatu warisan  kepada generasi masa datang. Dengan demikian tanah merupakan mata rantai yang menghubungkan antara generasi masa lalu, generasi masa kini dan generasi masa yang akan datang. Hamparan hutan(tanah dan segala isinya) yang ada di sekitar  mereka, mereka anggap adalah warisan dari nenek moyang mereka. Ada istilah Petak Ayungku(tanah milik saya) untuk mengklaim hamparan hutan yang ada di sekeliling mereka sebagai warisan dari nenek moyang mereka dan otomatis menjadi milik mereka. Jadi apabila ada orang lain atau pemerintah mencoba untuk mengambil tanah mereka yang mereka klaim sebagai “petak ayungku” pasti dan selalu menimbulkan konflik.

Ada beberapa pola penguasaan dan pemilikan tanah di kalangan suku Dayak Kalimantan, yaitu(a) membuka hutan untuk ladang, (b) tukar menukar dengan barang, (c) Mas Kawin, (d) Warisan, serta (e) tanah adat(kuburan, kebun buah, daerah mata air, daerah yang dianggap keramat, dan lain-lain).  Sedangkan tanah menurut peruntukannya dapat dipilah sebagai berikut:(a) kawasan hutan yang dilindungi dan dicadangkan untuk masa depan sebagai milik kolektif, (b) lahan yang ditanami dengan pohon buah-buahan, (c) lahan yang ditanami dengan pohon karet, lada, kopi dan tanaman keras lainnya,(d)lahan pertanian(dua jenis: lahan yang sedang digunakan dan lahan yang sedang diistirahatkan), (e)tanah keramat dan tanah pekuburan, (f) lahan perkampungan, dan (g) sungai dan danau untuk perikanan.

Ada istilah: Mahaga Petak Danum(Menjaga Tanah Air). Tanah dan air di sini tidak hanya bermakna secara harfiah tanah dan air, akan tetapi memiliki makna bahwa pada tanah dan air itu tertanam harga diri, harkat,  martabat, dan identitas orang Dayak. Pada tanah dan air juga terkandung darah dan nafas orang Dayak. Tanah juga merupakan mata rantai yang menghubungkan antara masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Maka dengan kerusakan/kehancuran atau terjadinya perampasaan terhadap hutan/tanah, itu berarti kematian bagi orang Dayak. Itulah sebabnya maka masalah tanah ini banyak dan seringkali memicu berbagai konflik.

8. Mengalah(solidaritas)

Mengalah adalah salah satu sifat suku Dayak pada saat mereka berhadapan dengan orang lain dalam hal bersaing(kompetisi) dan konflik. Mengalah, bukanlah perwujudan dari sifat penakut mereka, akan tetapi suatu sifat yang paling hakiki dalam upaya mereka untuk menjaga keseimbangan kosmos ini. Mereka telah diajarkan untuk tidak menciptakan berbagai persoalan dalam hidup ini, karena setiap persoalan akan berakibat fatal pada diri mereka yaitu berupa kutukan dari Tuhan Yang Maha Esa dan roh nenek moyang mereka. Sifat mengalah orang Dayak juga memiliki makna bahwa orang Dayak sangat menghormati dan menghargai “orang luar/orang asing” yang masuk ke lingkungan mereka. Orang Dayak juga dikenal non agresif dan non eksploitatif baik terhadap manusia maupun terhadap lingkungan hidup di mana mereka berada.

 9. Pembagian Warisan

Bentuk keluarga pada suku Dayak adalah bilateral, yaitu mengambil garis keturunan dari kedua orang tua. Dengan demikian posisi laki-laki dan perempuan sederajat dan oleh karenanya dalam pembagian harta warisan juga memperoleh bagian yang sama/seimbang/adil antara anak laki-laki dan anak perempuan.

10. Konsep Sama Rasa

Konsep sameh inam atau sama rasa sebenarnya berasal dari pilosofis rumah betang. Di rumah betang tidak ada dan tidak boleh ada anggota keluarga yang lebih kaya daripada yang lain karena hal itu akan menciptakan ketidakharmonisan dalam rumah betang. Oleh karenanya semua anggota keluarga dalam rumah betang memiliki kesetaraan dan keadilan, bahwa mereka memiliki nasib yang sama. Artinya bila enak sama-sama merasakan enak dan bila pahit sama-sama merasakan pahit. Secara mitologis, seorang rabiah suku Dayak bernama Nini Punyut pernah menikahkan(menjodohkan) 11 orang lelaki dengan 12 orang perempuan. Untuk menikahkankan mereka, Nini Punyut melaksanakan jamuan makan dengan ikan daging musang. Setelah selesai makan laki-laki dan perempuan tersebut diwawancarai oleh Nini Punyut untuk mengetahui bagaimana rasa dari makanan yang disajikan itu. Bagi mereka yang memiliki rasa yang sama langsung dijodohkan oleh Nini Punyut. Dan terakhir ada dua perempuan yang sama rasa dengan seorang lelaki harus dimadukan. Dari situlah asal-usul konsep sameh inam atau sama rasa.

11. Orang Tua Asuh

Konsep sama rasa ini juga diwujudkan dalam interaksi sosial dalam keluarga besar suku Dayak yang dikenal dengan “Orang Tua Asuh. Setiap anggota keluarga yang sudah mapan secara ekonomi dan tinggal di kota memiliki kewajiban moral untuk menyekolahkan seluruh keluarga mereka yang ada di kampung/desa. Setiap keluarga suku Dayak memiliki anak asuh paling sedikit 1(satu) orang yang dia ambil dari desa dan dibiayai sekolahnya.  Konsep “Orang Tua Asuh” ini menganut sistem reciprokal, yaitu “Orang Tua Asuh” berkewajiban membiayai semua keperluan anak asuhnya berupa biaya sekolah, pakaian, dan kebutuhan makan. Sedangkan Anak Asuh berkewajiban untuk mengabdi pada Orang Tua Asuhnya dengan mengerjakan kegiatan rutin dalam rumah tangga termasuk menjaga rumah dan anak-anak kecil pada jam kantor. Kebanyakan anak asuh ini sekolah pada sore hari dan disekolahkan pada sekolah-sekolah swasta. Tidak hanya itu, tanggung jawab orang tua asuh termasuk juga mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri dan sering juga berperan sebagai orang tua dalam hal menyelenggarakan pesta pernikahan bagi mereka. Hal ini sering dilakukan karena orang tua mereka di desa sangat miskin dan tidak mungkin sanggup membiayai perkawinan anak mereka. Hubungan sosial antara Orang Tua Asuh dan Anak Asuh bukan dalam bentuk hubungan majikan dan bawahan, tapi terjalin dalam hubungan kekeluargaan.

12. Panganrau, Turus Tajak, dan Paninrai

Kegiatan gotong royong pada suku Dayak di kenal dengan Panganrau, Turus Tajak dan  Paninrai. Panganrau adalah bentuk gotong royong dalam kegiatan ekonomi seperti membuka lahan(menebas, menebang, menanam padi, menyiangi rumput, menuai padi dan lain-lain). Cara demikian tergolong bentuk kegiatan reciprokal, saling membalas yaitu berupa jasa manusia.  Turus Tajak adalah bentuk gotong royong dalam pesta perkawinan suku Dayak. Setiap orang yang hadir pada perkawinan secara adat wajib memberikan sumbangan sukarela berupa uang kepada kedua mempelai yang segera akan membangun ruamh tangga. Di desa pelaksanaan turus tajak dilakukan oleh setiap undangan untuk menyanyi dalam bahasa daerah yang berisi berbagai nasihat untuk berumah tangga dan kemudian memberikan sumbangan(berupa uang) kepada kedua mempelai. Sejumlah uang yang diberikan kepada kedua mempelai merupakan beban moral mereka yang harus mereka bayar di kemudian hari apabila ada salah seorang keluarga orang yang menyumbang tadi melakukan upacara perkawinan. Sedangkan paninrai adalah bentuk bantuan bagi keluarga yang tertimpa musibah kematian.

 13. Budaya Betang

Betang sesungguhnya adalah bentuk kampung orang Dayak. Sebelum adanya rumah betang orang Dayak masih tinggal di rumah tunggal. Namun karena alasan keamanan, banjir, dan kehidupan komunal mereka membangun rumah betang yang dapat dihuni oleh beberapa keluarga. Huma Betang dibangun di pinggir sungai dan menghadap ke sungai. Betang memiliki kepala suku, dan betang memiliki paling sedikit 5(lima) jenis bilik, yaitu kamar tempat tidur, ruang keluarga, dapur, ruang Bakuwo(pendidikan), tempat menjemur dan menumbuk padi. Selanjutnya kehidupan kolektif pada Huma Betang(long house) adalah salah satu bentuk identitas budaya suku Dayak berdasarkan nilai-nilai kekeluargaan(kinship), kebersamaan(Community-sharing), kesetiakawanan(solidarity), gotong royong (mutual helps), kejujuran(honesty), pemerataan dan keadilan(equality) & equity), keterbukaan dan Bhinneka Tunggal Ika(inclusiveness and diversity).

 14. Pembalasan Terhadap Buaya

Bila ada orang yang mati diterkam buaya, menurut tradisi suku Dayak buaya tersebut harus dibunuh. Seorang ahli menangkap buaya disebut pangaleran, semacam seorang dukun atau pawang buaya. Ia bertugas untuk menyelenggarakan ritual khusus untuk menangkap buaya tersebut dengan cara memancingnya di sungai di mana buaya tersebut menyambar manusia. Mata pancing dibuat secara khusus dari besi dengan tali rotan yang telah dikeringkan. Sedangkan umpannya adalah binatang(monyet atau ayam). Seorang pawang dengan melempar pancing ke sungai sambil memanggil buaya yang menjadi target.  Cara demikian, menurut kepercayaan suku Dayak adalah menegakkan keadilan dan menghukum yang bersalah. Buaya yang tidak bersalah tidak akan menyambar pancing yang dilempar ke sungai, kecuali buaya yang telah memangsa manusia. Demikian juga halnya buaya-buaya yang tidak bersalah tidak boleh dibunuh. Sebab bila buaya yang tidak bersalah ikut dibunuh, maka buaya-buaya di sungai akan membalas dendam kepada manusia. Secara ilmiah cara demikian adalah upaya orang Dayak menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta ini.

15. Konsep Santuri/Namuei

Kehidupan di dunia ini sifatnya sementara, oleh sebab itu hidup dunia ini diidentikan dengan santurui atau namuei. Secara tradisional santurui/namuei berarti pergi jauh masuk hutan untuk berusaha menyadap karet, mencari rotan atau membuat perahu. Nilai-nilai yang terkandung dalam santurui adalah keberanian, kemandirian, keuletan/kerajinan, kesungguhan, dan prinsip isen mulang(kalau belum berhasil belum boleh pulang). Itulah sebabnya rata-rata orang Dayak pemberani menghadapi tantangan dalam kebenaran, rajin dan ulet bekerja, terbiasa menderita, dan konsisten.

 16. Proses Rekonsiliasi

Dalam proses penyelesaian berbagai kasus pelanggaran terhadap adat, biasanya dilakukan melalui dua cara, yaitu proses hukum dan proses rekonsiliasi. Proses hukum diselesaikan secara musyawarah oleh kedua belah pihak dan beberapa tokoh adat. Proses hukum bukanlah mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi sebaliknya mencari titik temu persoalan/kasus yang sedang dipecahkan itu. Proses selanjutnya adalah rekonsiliasi(pendamaian). Ada beberapa cara pendamaian mendurut adat Dayak, yaitu:

  1. Melalui Perkawinan. Kedua orang tua yang bersengketa bersama-sama menjodohkan anak mereka untuk mempererat tali persaudaraan dan menghindari perselisihan diantara mereka.
  2. Angkat Saudara. Angkat saudara akan dilakukan bila terjadi perselisihan diantara dua anak muda. Mereka sepakat dan berjanji untuk angkat saudara dan dikukuhkan melalui prosesi adat, yaitu memercikan darah hewan atau sama-sama minum darah mereka sendiri. Caranya adalah jari manis sebelah kanan dilukai sedikit dan darahnya diteteskan  dalam gelas atau pada nasi ketan. Tetesan darah tadi diaduk dengan air dan diminum bersama oleh keduanya. Ini berarti bahwa mereka memiliki satu darah, bersaudara dan semua amarah, dendam dan benci hilang dengan sendirinya. Karena tidak mungkin dua orang bersaudara akan berkelahi atau berselisih.
  3. Angkat Anak. Angkat anak bisa dilakukan oleh seorang anak muda terhadap sebuah keluarga. Cara ini juga merupakan salah satu cara rekonsiliasi untuk menteralisir konflik/perselisihan yang pernah terjadi diantara kedua belah pihak. Hal ini bisa juga dilakukan oleh seorang perantau yang memasuki suatu komunitas tertentu agar ia dapat diterima dengan baik, maka tradisi angkat anak ini sangat bagus dilakukan asal dilakukan dengan tulus.
  4. Sumpah Setia. Sumpah setia pada umumnya dilakukan secara kolektif oleh banyak orang terhadap kelompok lain. Sumpah setia ini berisi janji/sumpah untuk mentaati aturan yang ada, menyesuaikan diri dengan aturan yang ada, dan berjanji tidak akan melanggar berbagai aturan yang ada. Beberapa alat yang diperlukan diantaranya rotan, abu dapur, beras, garam, parang, potongan kayu, kuning,  dan minyak kelapa.

17. Hasaki/Hapalas

Hasaki/Hapalas ialah mengoleskan atau memercikan darah binatang(ayam, babi, kerbau) kepada tamu penting, penganten, dan siapa saja yang memerlukannya. Polesan darah tersebut dilakukan dikaki, tangan, dada, dan kepala. Hasaki/hapalas adalah lambang penyucian diri manusia agar ia terbebas dari pengaruh jahat, baik lahir maupun batin.

18. Manawur

Manawur artinya menabur. Yang ditabur biasanya adalah beras kuning ke segala penjuru, juga ke atas kepala manusia, dilakukan dalam setiap upacara adat yang dilakukan oleh suku Dayak. Mengapa beras? Beras memiliki kekuatan gaib sebagai media untuk meminta bantuan dari Hatalla(Tuhan Yang Maha Esa). Beras kuning juga berfungsi sebagai media untuk memanggil sahabat(nanyu sangiang) pada saat kita betul-betul memerlukan bantuannya. Yang menjadi sahabat biasanya adalah tokoh pangkalima yang memiliki kekuatan magis yang luar biasa dan tidak pernah tertandingi. Pada saat dipanggil, disebut namanya dan sambil menaburkan beras, maka roh sahabat akan datang dalam bentuk kekuatan gaib dan menjelma dalam diri orang yang memanggilkannya. Dengan demikian ia siap berperang melawan siapa saja.

 19. Malahap.

Malahap adalah secara bersama-sama mengeluarkan pekik rimba, yang telah menyatukan dan meresap dalam jiwa dan keseharian hidup suku Dayak. Dengan melahap mereka mengekspresikan kegembiraan dan kesungguhan hati mereka akan satu tekad dan tujuan yang telah mereka sepakati bersama. Pekik malahap juga bermakna simbolis sebagai ajakan untuk bersatu, bergandeng tangan, melangkah maju, merapatkan barisan dan dengan penuh semangat, bertekad untuk menyerang dan untuk menang. Dalam pekik malahap juga mengandung nilai patriotisme dan perjuangan yang pantang menyerah. Lahap inipun bermacam-macam, ada lahap untuk perang, lahap kemenangan dan ada pula lahap untuk menyambut tamu.

VIIProses Interaksi Sosial Yang Diharapkan

Paling sedikit ada tiga tahap dalam interaksi sosial yang harus diperhatikan, yaitu;

Pertama: Tahap Akomodasi.

Akomodasi adalah suatu keadaan yang mengharap adanya keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang perorang dan kelompok-kelompok manusia sehubungan dengan morma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.  Dalam proses interaksi, tahap akomodasi adalah tahap penerimaan dan perkenalan serta penyesuaian dimana kedua belah pihak masih belum mengetahui adat-istiadat masing-masing, namun mencoba untuk saling memahami demi suksesnya interaksi tersebut.

 Kedua: Tahap Asilimasi.

Asimilasi adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya  usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan  proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

 Ketiga: Tahap Akulturasi

Akulturasi adalah proses interaksi sosial tahap lanjutan setelah terjadinya asimilasi. Proses akulturasi merupakan proses yang memerlukan toleransi tinggi dan tingkat pemahaman tentang nilai-nilai nasionalisme yang baik. Akulturasi adalah adanya kemauan dari pihak yang satu untuk mempelajari dan memahami aspek-aspek budaya pihak lain, tanpa harus mengabaikan budaya sendiri. Misalnya anak-anak Jawa yang ada di Kalampangan mau belajar tari gelang yang diasuh oleh Sanggar Manguntur Janang. Tahap akulturasi adalah tahap dimana orang mulai membuka diri dan meninggalkan ekslusivisme(ketertutupan) dan sifat etnosentrisme dan stereotipe.

VIIIPenutup

Demikianlah beberapa informasi tentang nilai-nilai kearifan lokal Suku Dayak Kalimantan Tengah. Apa yang disajikan disini hanyalah sebagian kecil yang kami anggap sangat relevan untuk kegiatan sarasehan ini. Adanya keinginan dan kemauan untuk menyelami dan memahami budaya lain merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat tali persaudaraan di antara kita. Sebab dengan memahami budaya suku bangsa lain, akan mempermudah upaya kita untuk melakukan interaksi dan integrasi sehingga berbagai kesalahfahaman dan bahkan konflik dapat kita hindari. Sebagai penutup alangkah baiknya kita camkan kata-kata Marthin Luther King, Jr(1963):  Unless we learn to live together as brothes and sisters, we shall die together as fools(Kalau kita tidak belajar untuk hidup bersama bagaikan saudara, kita akan mati bersama bagaikan orang bodoh)

Sekian dan terima kasih, semoga bermanfaat.

Bahan Bacaan

Andasputra, Nico et(Editors)(2001). Pelajaran Dari Masyarakat Dayak: Gerakan

Sosial & Resiliansi Ekologis di kalimantan Barat.Jakarta: WWF & Institut

Dayakologi.

Anyang, Tambun(1998). Kebudayaan dan Perubahan: Daya Taman Kalimantan

Dalam Arus Modernisasi. Jakarta: Grasindo

Djuweng, Stepanus et al(1996). Kisah Dari Kampung Halaman: Masyarakat Suku,

Agama Resmi dan Pembangunan. Yogyakarta: Interfidel

Florus, Paulus et al(1994). Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi.

Jakarta:PT. Gramedia.

Lahajir(2001) Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang: Etnografi

Lingkungan Hidup di Dataran Tinggi Tunjung. Yogyaklarta: Galang Press.

Maunati, Yekti(2004). Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan.

Yogyakarta: LKiS

Radam, Noerid Haloei(2001). Religi Orang Bukit. Yogyakarta: Yayasan Semesta.

Riwut, Tjilik(2003). Maneser Panatau Tatu Hiang-Menyelami Kekayaan Leluhur.

Palangka Raya: Puskalima.

Widen, Kumpiady(2001) The Power of Identity. Ph.D dissertation at La Trobe

University, Melbourne, Australia.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 − 5 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*